Kanker leher rahim adalah pertumbuhan sel atau jaringan tak terkendali yang menyebabkan benjolan atau tumor pada leher rahim atau serviks. Pada tahap awal, sel pada leher rahim atau pintu masuk ke dalam kandungan berkembang secara abnormal yang disebut tahap pra-kanker, dan bila tidak diobati akan berubah jadi kanker.
Mayoritas kasus kanker serviks disebabkan infeksi human papillomavirus (HPV). Sebagian infeksi HPV pada perempuan menghilang sendiri meski tanpa pengobatan, namun ada juga infeksi yang menetap bertahun-tahun hingga menyebabkan kanker. Sejauh ini ada lebih dari 100 jenis HPV dan 13 jenis di antaranya mampu meningkatkan risiko kanker leher rahim. Namun 71 persen penyebab utama kanker ini terkait infeksi HPV tipe 16 dan 18.
Infeksi HPV umumnya terjadi setelah wanita berhubungan seksual dan umumnya terjadi pada usia sekitar 25 tahun. Dari infeksi HPV sampai terjadinya kerusakan lapisan lendir jadi pra-kanker hingga menuju keganasan atau kanker butuh waktu hampir 20 tahun. Selama hidupnya, hampir separuh dari wanita dan pria pernah terinfeksi HPV, kata Kepala Pusat Kesehatan Reproduksi Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Siswanto Agus Wilopo.
Semua perempuan yang berhubungan seksual berisiko terkena kanker serviks, karena dengan hubungan intim itu bisa terjadi infeksi H PV. Mereka yang berisiko tinggi terkena kanker serviks adalah, perempuan yang tidak pernah menjalani skrining, mulai berhubungan seksual dan punya anak pada usia muda, memiliki anak lebih dari 5 orang, punya beberapa pasangan atau riwayat ganti-ganti pasangan, serta memiliki kebiasaan merokok.
Beberapa email yang saya terima mengatakan mengenai hubungan antara minum air dingin pada saat haid dapat menyebabkan kanker leher rahim atau serviks. Hal ini terjadi karena aliran darah akan membeku pada dinding rahim dan menjadi kanker. Padahal kalau kita analisa sederhana saja, yaitu pada saat kita banyak minum air dingin kemudian anda kencing, apakah air kencing anda akan terasa dingin saat keluar
Tanda-tanda terjadinya kanker antara l ain, terjadi bercak-bercak darah atau perdarahan vagina pasca berhubungan intim, perdarahan di antara dua siklus menstruasi atau perdarahan pasca menopause, bau lendir vagina yang menyengat meski sudah diobati untuk mengatasi infeksi vagina.
Kanker leher rahim atau serviks bisa dicegah dengan antara lain tidak berganti-ganti pasangan hubungan seksual, menunda waktu hubungan seksual, tidak punya anak pada usia sangat muda, memakai kondom saat berhubungan seksual dengan pasangan yang berisiko tinggi terinfeksi menular seksual, gizi seimbang, dan tidak merokok.
Selain itu, para perempuan diimbau agar memeriksakan diri sejak dini untuk mengetahui apakah punya leher rahim normal atau tidak sekaligus mendeteksi adanya fase pra kanker. Deteksi dini bisa dilakukan dengan tes Pap, metode dengan usapan lendir leher rah im menurut Papanucolaou. Deteksi dini dengan tes Pap di negara maju memperlihatkan hasil memuaskan dengan menurunkan angka kematian karena kanker serviks lebih dari separuhnya.
Bila ditemukan lebih awal, kanker leher rahim bisa diobati dengan beberapa metode terapi antara lain, operasi untuk mengangkat jaringan kanker yang masih terlokalisir, terapi penyinaran atau radiasi dan kemoterapi. Namun lebih dari 70 persen penderita datang memeriksakan diri dalam stadium lanjut sehingga banyak pasien meninggal karena terlambat ditemukan dan diobati, kata Ketua Himpunan Onkologi Ginekologi Indonesia Prof M Farid Aziz.
Bertindak aman untuk hidup yang lebih baik.
Sumber : Kompas.com
Artikel terkait:





Beri komentar